Monday, November 19, 2007

Apa itu "Hazard Map" dan "Multi Hazard Map"?

Apa yang disebut dengan "Hazard Map?"

Hazard Map
atau peta rawan bencana adalah peta yang memperlihatkan resiko suatu bencana tertentu di suatu tempat/wilayah. Contoh peta rawan bencana misalnya, peta daerah rawan banjir, peta rawan bencana gunung berapi, peta daerah rawan gempa, dan sebagainya.

Jika Hazard Map adalah peta yang memperlihatkan resiko suatu bencana tertentu saja, maka Multi Hazard Map adalah peta yang menggambarkan resiko beberapa bencana di dalam satu format peta. Jadi dalam Multi Hazard Map, misalnya dapat digambarkan daerah rawan banjir, rawan longsor sekaligus. Atau peta daerah rawan gempa digabungkan dengan peta daerah rawan tsunami, sehingga dapat diketahui daerah mana yang beresiko terkena beberapa bahaya sekaligus.

Apa guna Hazard Map atau Multi Hazard Map?

Banyak sekali kegunaan hazard map : )
Selain untuk mengetahui daerah-daerah mana yang rawan terkena bencana, selanjutnya Hazard Map juga dapat digunakan untuk memperkirakan berapa besar resiko kerusakan yang dimiliki suatu daerah, dengan mempergunakan data-data lain yang berkaitan dengan daerah tersebut (misalnya data jumlah penduduk, bangunan). Hazard Map juga dapat menjadi landasan untuk perencanaan dan pengembangan wilayah.

Bagaimana Hazard Map dibuat?
Hazard Map dibuat dengan terlebih dahulu melakukan evaluasi di daerah yang akan dibuat petanya. Evaluasi ini juga dikenal dengan Risk Evaluation, atau evaluasi resiko. Ada bermacam-macam metode evaluasi yang berkembang saat ini, tergantung jenis resiko bencana apa yang akan dievaluasi.

Alat yang populer saat ini untuk membuat hazard map salah satunya adalah dengan menggunakan sistem informasi geografis (GIS = Geographic Information System). GIS pada dasarnya adalah pembuatan peta melalui proses digital, yang hasilnya dapat diprint out menjadi peta yang biasa kita lihat, ataupun peta-peta digital yang dapat dilihat dengan komputer atau dilihat melalui internet.


contoh Peta Resiko Banjir dan rencana evakuasi di Kurihashi, jepang (photo courtesy of :.....)

Saturday, November 17, 2007

Bagaimana cara menyelamatkan diri saat terjadi gempa?

Bagaimana cara menyelamatkan diri saat terjadi gempa?

1. Tetap tenang dan carilah keselamatan
Berlindung dibalik meja terdekat dan lindungi kepala anda (dengan bantal atau sesuatu). Pada saat terjadinya gempa, furniture atau barang-barang lain mungkin dapat terjatuh menimpa anda, maka sangatlah penting untuk melindungi kepala.
Segera membuka pintu untuk memastikan adanya jalan untuk evakuasi setelah gempa selesai. Gempa dapat memacetkan pintu dan membuatnya susah dibuka.
Jangan terburu-buru keluar. Biasanya gempa yang kuat akan berhenti dalam beberapa menit. Carilah tempat berlindung di ruang tempatmu berada, dan tetaplah disana sampai gempa berakhir.Terburu-buru keluar dengan panik bisa menyebabkan kejatuhan reruntuhan kecil bagian dari bangunan seperti kaca atau sign.

2.Cegah timbulnya api
Matikan semua alat yang dapat menyebabkan timbulnya api, seperti kompor, atau lampu petromax
Matikan alat listrik, dan cabut kabelnya.
Sesudah selesai gempa, matikan sumber listrik.
Siapkan fire extinguisher atau air untuk berjaga-jaga jika terjadi munculnya api.
Jika melihat api, berteriaklah bahwa ada api atau kebakaran.

3. Menjauhlah dari jalan sempit, tebing, dan jurang
Jangan berdiri dekat dinding rumah untuk melindungi diri dari kejatuhan atap, seng.
Menjauhlah dari tebing atau jurang untuk melindungi diri dari kemungkinan terjadinya longsor akibat getaran tanah.

4. Ikuti prosedur evakuasi
Evakuasilah dengan berjalan kaki.Bawalah hanya barang-barang personal yang diperlukan.Sebaiknya menghindari evakuasi dengan mobil, karena dapat menghambat traffic dan menghalangi ambulance atau pemadam kebakaran.
Jika terjadi terjadi tsunami
Jika sedang berada di pantai, segera berlindunglah ke tempat tinggi saat merasakan gempa yang cukup kuat (lebih dari skala 4), atau merasakan getaran lemah tapi lama.
Perhatikan radio atau berita untuk informasi yang berkaitan dengan kemunculan tsunami.
Menjauhlan dari tempat yang pernah terjadi longsor atau terdapat longsor.
Diperlukan waktu yang cukup bagi petugas untuk menginformasikan adanya tsunami. Tsunami dapat saja mencapai pantai sebelum itu, maka segeralah berlindung.

5. Yakinlah bahwa anda menerima informasi yang benar
Jangan dengar rumor.
Ikuti berita di TV atau radio
Ikutilah perintah dari pemerintah setempat, dinas kebakaran, atau kepolisian.
Jangan menggunakan telepon untuk hal yang tidak perlu, seperti menelepon dinas kebakaran atau rescue untuk menanyakan berita atau status bencana.

6. Sediakan first-aid untuk luka ringan dan bekerjasamalah dengan yang lain.
Bekerjasamalah dengan rescue team

Jika sedang berada di mobil.
Segeralah pinngirkan mobil anda, dan matikan mesin
Dengarkan radio atau ikuti instruksi dari polisi
Evakuasi dengan berjalan kaki. Pada saat gempa, sulit untuk mengendalikan kendaraan. Kesulitannya sama seperti mengemudi dengan ban yang rata(licin)


Some fact:

  • 18 dari 28 kematian pada kejadian gempa di Miyagi Prefectur, Jepang (1978) adalah disebabkan karena kejatuhan batu dan batako dari dinding
  • Gempa Kobe (Hanshin-Awaji Earthquake) yang mengakibatkan kerusakan besar pada tahun 1995, berlangsung sekitar 14 detik.
  • Dalam gempa besar Kobe (disebut juga Hanshin-Awaji Earthquake), sekitar 30% dari kebakaran disebabkan oleh induksi listrik
  • Dalam North Ridge Earth quake yang terjadi di Los Angeles, kebakaran disebabkan karena kebocoran gas.

(sumber : Earthquake Emergency Procedures, FDMA, Japan)

How a Disaster Drill is performed in Japan (3) ?

FIRES, COLLAPSED BUILDING
The next was how to pull people trapped in a collapsed building.A fake roof parts of a wooden building was being set. Inside it was a fake man (a doll ) who trapped by a collapsed building.First what we had to know was if there was anyone who trapped inside the fake building. First the fire department ordered a well-trained dog to find the victims. The dog done it successfully. Then we checked if the man was still alive or not by shouting at him “Can you hear?”. Consider he alive, and continued to another process. We lifted the roof with a lever for about 30m height (high enough for a body to be pulled out), keep that height with some blocks or woods. Checked the stability. Then we pulled the victim out carefully. Took him to the nearest medical facilities.
lift up...lift up..

pull the body out carefully

FIRES

For a small fire, first we were asked to shout clearly “Fires!!” to attract people around. Then we were directed to bring the fire extinguisher or water. Focused the fire extinguisher or water to the source of the fire, and stopped the fire.
For a large fire, we were not directly participated, but watched how the Fire Department works with that. For me, this was the most interesting part of the training.The scenario was, a man trapped in a fire house. Downside the house, a fire brigade was trying to stop the fire from a fire engine. About 5 minutes later, a helicopter was coming! A fireman rolled down using a strong rope from the helicopter to the roof of the building, and managed to reach a window. He brought back a fake man, tighted it to his body. Then he reached the rope, and climbed back to the helicopter carrying the fake man with him. He managed to reach the door of the helicopter, and somebody inside it helped him to go inside. He, and the fake victims were saved.

Stop the fires

carrying the body

Applauses were directed to Fire Brigade from participants. Yes, it was quite emotionally impressed, it seems real that somebody helped a man from a fire. Even a boy of 5 years old besides me, looked pretty scared and supported the fireman. With all of his heart and voice he shout “ganbatte!!…ganbatte!!” (means “try hard..!! try hard…”) during the training process. Maybe he thought that it was not a training. I was touched.
Finally, the training was over. All of the participants brought back the canned food and water as a gift. It was very good experience. The seriousness of the institution and the disaster brigade, and participation of the public during the drill, were impressed me so much. It was a good cooperation.

How a Disaster Drill is performed in Japan (2) ?

FIRST AID, EQUIPMENTS, LIFELINES
Here we go again! First training was about medical treatment. Participants were divided into groups and gather in the hall of the evacuation shelter. Here we practised first aid.







Practising CPR
Then we looked at the disaster equipments and had a chance to try them by our own. Here we practiced with fire extinguishers, learning how to use electrical generator (in case no electricity in a disaster events). We also had been introduced about stocks that necessary to be prepared in our everyday life, in case an earthquake happened. There were canned foods that lasting for few years (there were canned noodles, breads, cakes, and rice were available), canned drinks and water.
food for disaster


stock availability in an evacuation shelter

These are necessary stocks that the municipal government encourages its citizens in order to prepare for an earthquake.


Lifelines






















Is it all? Nope, there are still some!

How a Disaster Drill is performed in Japan (1) ?

First time I went to Japan and started to do my research on Disaster Prevention Management, one think that I really wanted to know was about Japanese Disaster Drill. Why? Because, many of you may know that Japan is one country that very concerns about Disaster, and Japan is well known for its frequent earthquakes.

And finally…I got the opportunity to see and joint to a big disaster drill. Yes it was big, as some main institutions and a lot of citizens were participated (about 300 hundred people). Here we talk about Disaster Drill that conducted at an evacuation shelter of Hodogaya ward area or Hodogaya-Ku (for my Indonesian readers, ward area is the same level as Kecamatan), Yokohama City.

The board of OrganizationParticipating Institution were Kuyakusho (ward office), Shoubousho (Fire Department), Water System, and Evacuation Shelter.

participants

For disaster Prevention, community of citizen are already organized in Yokohama. For every neighborhood community, there is a community leader who lead actions and become an intermediate between the local community and the formal institutions. Therefore, basically this disaster drill was an exercise for formal institutions and community for their readiness to cope and work together in a disaster event, as well as checking all the equipments.

inside a hall in evacuation shelter

Scenario of training
The scenario of the disaster drill was a major earthquake. Many people were injured. Post-earthquake fire happened and there were people who trapped in a firehouse and a collapsed building. Lifelines including water were damaged.

fire brigade, ready to practise!


How the disaster drill was being an exercise to handle this situation? Continue reading, I will tell it for you : )